Artyan Trihandono on March, 2017

Merekam lewat Sketsa.
Sebagai media untuk merekam peristiwa, sketsa kembali digemari. Setahun terakhir, gambar sketsa seperti bangkit kembali. Tak hanya sekadar koleksi pribadi, karya sketsa dipajang sebagai benda seni di banyak lokasi publik, seperti hotel, perkantoran, bank.

Di Indonesia, ada komunitas Indonesia’s Sketcher. Komunitas serupa juga menjamur di banyak daerah, seperti Bandung, Solo, dan Surabaya. ”Enggak nyangka, ya. Dulu cuma iseng doang. Sekarang berkembang pesat sampai sering diminta isi workshop,” kata pencinta sketsa, Artyan Trihandono. Artyan yang juga Direktur Desain PT Zenith Desain Indonesia yang memproduksi barang seni, seperti patung untuk desain ruang, terbiasa dengan sketsa sejak menjadi mahasiswa arsitektur. Ketika lulus pada 1998, sketsa masih menjadi bagian dari mata kuliah mahasiswa arsitektur. Seiring kemajuan teknologi komputer, sketsa akhirnya tak lagi diajarkan di kampus, terutama setelah 2010.

Namun, para pencinta sketsa justru kemudian bermunculan, tak sebatas mereka yang memiliki latar belakang pendidikan atau profesi di bidang arsitektur. ”Bagi saya, sketsa adalah media komunikasi yang cepat sekaligus media merekam dan mencatat,” ucap Artyan. Sebagai media komunikasi, sketsa memungkinkan penyampaian informasi yang cepat dan akurat dari arsitek kepada klien ataupun tukang. Sebagai hobi, membuat sketsa bisa menjadi senjata ampuh untuk merekam dan mencatat sebuah perjalanan, bangunan, makanan, hingga manusia. ”Enggak nyangka, bisa jadi bisnis lagi. Setahun booming. Orang lihat kok keren,” katanya. Karya-karya sketsa Artyan akhirnya diminta untuk dipajang di banyak tempat, seperti hotel, bank, serta rumah tinggal. Di Bogor, karya sketsanya berupa bangunan tua di Bogor, seperti kawasan pecinan, dipajang di Hotel 101. Karya sketsa Artyan juga dipajang di kamar-kamar Hotel Grand Dhika, Medan. Sketsa sebuah gedung bank tua juga dipajang di bank swasta itu.
Di Lombok, Artyan membuat mural sketsa raksasa di dinding Hotel Aston. Tak melulu untuk instansi tertentu, karya sketsa pun dikoleksi menjadi hiasan di rumah tinggal. Di era media sosial seperti saat ini, beberapa buzzer produk di media sosial bahkan membeli sketsa untuk mempromosikan produk mereka. ”Kirim lewat Instagram, lalu dapat penghasilan tambahan. Sketsa makanan juga laku buat kafe,” lanjutnya.

Gambar Bebas

Menggambar sketsa semakin menyenangkan karena tak ada aturan baku yang harus dipatuhi. ”Orang bilang gaya saya ekspresif. Garis saya sebenarnya berantakan, tapi orang senang karena ekspresif. Saya senang sketsa berwarna. Memakai cat air kayak meditasi. Nyemprotin air kayaknya seger,” ujar Artyan. Demi menularkan kegemaran menggambar sketsa, Artyan pun sering kali diundang sebagai pembicara di beragam lokakarya yang digelar terutama oleh kampus. Beberapa universitas juga mulai menggelar lomba menggambar sketsa. Semakin spontan proses membuat sketsa, hasil yang diperoleh biasanya akan semakin artistik. ”Untuk proyek hampir sudah enggak dipakai lagi, tapi lebih untuk passion mereka sebagai arsitek. Dengan sketsa, pendalaman bangunan menjadi lebih baik. Setengah jam duduk buat sketsa hitam putih bisa lebih memahami bangunan,” ungkap Artyan. Ke mana pun bepergian, baik Artyan maupun Odie akhirnya memilih selalu membawa buku gambar. ”Kadang ruwet pekerjaan. Banyak masalah sebagai arsitek. Di proyek begini begitu. Stres. Buka gambar pakai cat air menenangkan. Menemukan ketenangan. Enggak mau diganggu. Kadang saya minta dibiarin, saya mau satu hari cuma mau nggambar. Stop dulu kerja, mau ke Surabaya, mau ketemu komunitas di sana. Ketemu mahasiswa arsitektur, lalu balik kerja lagi jadi enak,” kata Artyan. Sketsa-sketsa indah itu ternyata tak lagi hanya digemari oleh pembuatnya, tetapi juga dinikmati pasar sebagai sebuah karya seni.

Mawar Kusumajurnalis di Kompas.com

Menggambar sketsa semakin menyenangkan karena tak ada aturan baku yang harus dipatuhi. ”Orang bilang gaya saya ekspresif. Garis saya sebenarnya berantakan, tapi orang senang karena ekspresif. Saya senang sketsa berwarna. Memakai cat air kayak meditasi. Nyemprotin air kayaknya seger,” ujar Artyan. Demi menularkan kegemaran menggambar sketsa, Artyan pun sering kali diundang sebagai pembicara di beragam lokakarya yang digelar terutama oleh kampus. Beberapa universitas juga mulai menggelar lomba menggambar sketsa. Semakin spontan proses membuat sketsa, hasil yang diperoleh biasanya akan semakin artistik. ”Untuk proyek hampir sudah enggak dipakai lagi, tapi lebih untuk passion mereka sebagai arsitek. Dengan sketsa, pendalaman bangunan menjadi lebih baik. Setengah jam duduk buat sketsa hitam putih bisa lebih memahami bangunan,” ungkap Artyan. Ke mana pun bepergian, baik Artyan maupun Odie akhirnya memilih selalu membawa buku gambar. ”Kadang ruwet pekerjaan. Banyak masalah sebagai arsitek. Di proyek begini begitu. Stres. Buka gambar pakai cat air menenangkan. Menemukan ketenangan. Enggak mau diganggu. Kadang saya minta dibiarin, saya mau satu hari cuma mau nggambar. Stop dulu kerja, mau ke Surabaya, mau ketemu komunitas di sana. Ketemu mahasiswa arsitektur, lalu balik kerja lagi jadi enak,” kata Artyan. Sketsa-sketsa indah itu ternyata tak lagi hanya digemari oleh pembuatnya, tetapi juga dinikmati pasar sebagai sebuah karya seni.